MASIH banyak kalangan masih awam
dengan nama buah parijoto. Apakah buah atau tanaman jenis padi, karena
nama depannya pari, yang dalam bahasa jawa berarti padi.
Tapi, jika Anda sudah melihat bentuknya, sangat jauh berbeda dengan
tanaman padi, sebab tidak satu ordo dengan padi. Buah parijoto hanya
tumbuh di dataran tinggi, tepatnya di pegunungan Lereng Muria.
Buah Parijoto ?? Apa sih itu ??
Buahnya berwarna putih kemerahan jika masih muda dan akan berwarna ungu
kemerah-merahan jika sudah tua. Bentuknya kecil-kecil dengan rasa asam,
pahit, sepet bercampur menjadi satu.
Bagi orang yang tidak tahu manfaatnya, mungkin akan memandang sebelah
mata. Namun jika bertanya kepada penduduk Desa Tempur, Kecamatan Keling,
niscaya Anda ingin mengonsumsinya.
“Entah dari mana namanya parijoto. Sejak saya kecil ya memang itu
namanya. Buah ini termasuk tanaman yang langka, karena hanya bisa tumbuh
di Lereng Muria, khususnya Tempur,” ucap Sahuri, warga setempat.
Sahuri yang juga ketua RT ini menceritakan, parijoto mempunyai
keistimewaan bagi orang yang mempercayainya, utamanya bagi ibu yang
sedang mengandung.
Bila si ibu mengonsumsinya, bayi yang dikandungnya kelak akan lahir
dengan kulit yang bersih. Bukan itu saja, bayi yang lahir laki-laki akan
berwajah tampan, dan berparas cantik jika perempuan.
“Banyak ibu yang hamil mengonsumsinya dengan campuran rujak atau pecel
dan dicampur buah Delima. Tapi bisa saja langsung dimakan. Ada
penelitian, buah ini mengandung nutrisi dan vitamin yang bagus bagi
janin. Ini mitos sudah ratusan tahun yang lalu,” imbuhnya.
Sunan Muria
Umumnya para wanita mengonsumsi parijoto setelah usia kandungan memasuki
lima bulan ke atas. Namun tak jarang, sudah mengonsumsi pada usia
kehamilan dua-tiga bulan.
Konon mitos ini terlahir saat istri Sunan Muria yang saat itu hamil,
lalu mengonsumsi buah parijoto yang ditemukannya jauh di dalam hutan.
Dan bayi yang dilahirkan sehat serta berkulit bersih. Oleh Sunan Muria,
hal itu kemudian disebarkan oleh para santrinya dan dipercaya hingga
kini.
“Beberapa waktu lalu kami sempat kaget, karena parijoto diklaim milik
Kudus. Padahal buah ini asli dari Desa Tempur, Jepara. Biasanya pedagang
dari Kudus kulakan di Tempur dengan harga per ikatnya Rp 5.000-
10.000,” tandas Imam Sukoco, tokoh pemuda setempat.
Semula buah ini berkembang di alam bebas, namun beberapa tahun terakhir
sudah sulit dicari. Penduduk kemudian membudidayaknnya dengan cara
ditanam di pot.
Apakah Anda saat ini sedang mengandung? Ingin anak Anda lahir tampan
atau cantik seperti bidadari? Cobalah mengonsumsi buah parijoto yang
ditanam di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara. Jaraknya sekitar 65 km
dari Kota Jepara.(79)
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar