Liputan6.com, Tokyo: Selama beberapa tahun ini, Jepang
telah dipusingkan dengan masalah "soushoku danshi", pria anti-sosial.
Mereka biasanya tidak mau bergaul dan berkenalan dengan lawan jenis.
Akibatnya, kaum hawa Negeri Sakura itu kesulitan mencari pria yang ingin
memulai hidup baru hingga akhirnya berhubungan intim. Hal itu berdampak
pada penurunan jumlah kelahiran di Jepang.
Menurut data Lembaga Pendidikan Seks Jepang, wanita yang melakukan
hubungan intim terus menurun selama enam tahun belakangan. Lembaga itu
melakukan survei sekali setiap enam tahun untuk mendapatkan informasi
tentang kesadaran seksual generasi muda Jepang. Survei terakhir yang
diambil dari Oktober 2011 sampai Februari 2012. Jajak pendapat itu
dilakukan terhadap 7.770 responden yang merupakan siswa di tingkat SMP,
Sekolah Tinggi, dan Universitas dari seluruh Jepang.
Hasilnya, persentase wanita aktif secara seksual dari mulai SPM hingga
universitas terus meningkat mengikuti tren sejak survei dimulai pada
tahun 1974 silam. Kemudian, memuncak pada tahun 2005, sekitar 60 persen
untuk mahasiswi dan 30 persen untuk remaja putri usia SMA. Namun, di
tahun 2012, menurun menjadi 47 persen untuk mahasiswi dan 24 persen
untuk siswa SMA.
Kazuo Katase, seorang profesor dari Universitas Tohoku percaya hasil ini
menunjukkan bahwa banyak wanita muda Jepang yang menyerah pada gaya
hidup pria "soushoku danshi".
Survei ini juga menunjukkan bahwa kaum "sasoushoku danshi" terus
meningkat jumlahnya. Persentase aktif secara seksual mahasiswa laki-laki
menurun dari 60 persen pada 2005 menjadi 54 persen pada tahun 2011.
Bahkan, menurut survei yang sama, persentase siswa yang pernah mencium
teman wanitanya juga ikut menurun. Dari 72 persen menjadi 66 persen
untuk mahasiswa. Kemudian, 48 persen menjadi 37 persen untuk remaja
laki-laki usia SMA. (Rocketnews24/Vin)
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar